TRIBUNPONTIANAKCO.ID- Komplikasi diabetes sering sekali terjadi dialami oleh penderitanya. Hal ini juga sangat rawan untuk mengalami berbagai komplikasi penyakit dan munculnya berbagai jenis Mencapairemisi diabetes bisa dilakukan dengan cara langkah-langkah berikut ini: 1. Mengelola diabetes tipe 1 . Diabetes tipe 1 merupakan penyakit autoimun yang sering berkembang pada masa kanak-kanak. Ini dapat dikontrol dengan beberapa cara di antaranya: Perawatan insulin. Suntikan insulin adalah pengobatan yang paling umum untuk diabetes tipe 1. Berbagaimacam pose yoga ternyata juga bermanfaat untuk menyembuhkan diabetes. Pose seperti The Halasana, Pavanamuktasana, atau Merudantasana akan meningkatkan fungsi pankreas, hati dan sistem pencernaan, yang membantu dalam menyembuhkan diabetes. Jadi, daripada minum obat, tak ada salahnya jika kamu mencoba berbagai macam terapi di atas untuk DoaPenyembuh Segala Penyakit Anjuran Rasulullah. Menyembuhkan penyakit juga dapat melafalkan salah satu bacaan berikut ini. Lafal yang satu ini merupakan doa penyembuh segala penyakit yang pernah digunakan Rasulullah saat berhadapan dengan orang sakit. Menurut hadis Abu Dawud dan At-Tirmidzi, doa tersebut dilafalkan sebanyak 7 kali. Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. Pengertian Diabetes Gula Darah Tinggi Diabetes atau penyakit gula gula darah tinggi adalah penyakit kronis jangka panjang yang perlu kamu waspadai. Adapun tanda utama dari penyakit ini adalah meningkatnya kadar gula darah glukosa melebihi nilai normal. Diabetes terjadi ketika tubuh pengidapnya tidak lagi mampu mengambil gula glukosa ke dalam sel dan menggunakannya sebagai energi. Kondisi ini pada akhirnya menghasilkan penumpukan gula ekstra dalam aliran darah tubuh. Penyakit diabetes yang tidak terkontrol dengan baik dapat menyebabkan konsekuensi serius, menyebabkan kerusakan pada berbagai organ dan jaringan tubuh. Contohnya organ seperti jantung, ginjal, mata, dan saraf. Ada dua jenis utama diabetes, yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2. Jika dijabarkan, berikut adalah penjelasan mengenai keduanya, yaitu Diabetes tipe 1. jenis ini adalah penyakit autoimun, artinya sistem imun tubuh akan menyerang dirinya sendiri. Pada kondisi ini, tubuh tidak akan memproduksi insulin sama sekali. Diabetes tipe 2. Pada jenis diabetes ini, tubuh tidak membuat cukup insulin atau sel-sel tubuh pengidap diabetes tipe 2 tidak akan merespons insulin secara normal. Penyebab Gula Darah Tinggi Diabetes kadar gula darah normal yaitu kurang dari 100 mg/dL. Apabila kadar gula darah sudah mencapai 100-125 mg/dL berarti masuk status prediabetes. Sementara itu, kadar gula darah yang mencapai 126 mg/dL ke atas sudah tergolong diabetes. Kadar gula darah tinggi dikenal sebagai hiperglikemia. Pada dasarnya hiperglikemia adalah kondisi ketika kadar gula dalam darah meningkat atau berlebihan. Sementara itu diabetes merupakan penyakit yang sebagian besar dipengaruhi oleh hiperglikemia. Penyebab gula darah tinggi dari penyakit gula terjadi akibat adanya gangguan dalam tubuh. Sebab, kondisi ini membuat tubuh tidak mampu menggunakan glukosa darah ke dalam sel. Alhasil, glukosa menumpuk dalam darah. Pada penyakit gula tipe 1, gangguan ini terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang biasanya menyerang virus atau bakteri berbahaya lainnya, malah menyerang dan menghancurkan sel penghasil insulin. Akibatnya, tubuh kekurangan atau bahkan tidak dapat memproduksi insulin sehingga gula yang seharusnya diubah menjadi energi oleh insulin, menyebabkan terjadinya penumpukan gula dalam darah. Sedangkan pada penyakit gula tipe 2, tubuh bisa menghasilkan insulin secara normal. Tetapi, insulin tidak dapat tubuh gunakan secara normal. Kondisi ini dikenal juga sebagai resistensi insulin. Faktor Risiko Gula Darah Tinggi Diabetes Terdapat beberapa faktor risiko penyakit gula tipe 1, antara lain Faktor riwayat keluarga atau keturunan, yaitu ketika seseorang akan lebih memiliki risiko terkena diabetes tipe 1 jika ada anggota keluarga yang mengidap penyakit yang sama, karena berhubungan dengan gen geografi, orang yang tinggal di daerah yang jauh dari garis khatulistiwa, seperti di Finlandia dan Sardinia, berisiko terkena diabetes tipe 1. Hal ini disebabkan karena kurangnya vitamin D yang bisa didapatkan dari sinar matahari, sehingga akhirnya memicu penyakit usia. Penyakit ini paling banyak terdeteksi pada anak-anak usia 4–7 tahun, kemudian pada anak-anak usia 10–14 pemicu lainnya, seperti mengonsumsi susu sapi pada usia terlalu dini, air yang mengandung natrium nitrat, sereal dan gluten sebelum usia 4 bulan atau setelah 7 bulan, memiliki ibu dengan riwayat preeklampsia, serta menderita penyakit kuning saat lahir. Sementara itu, berikut adalah beberapa faktor risiko dari penyakit gula tipe 2, antara lain Berat badan berlebih atau lemak perut yang hidup tidak aktif dan jarang beraktivitas atau penyakit diabetes tipe 2 dalam kulit hitam, hispanik, Native American, dan Asia-Amerika, memiliki angka pengidap lebih tinggi dibandingkan dengan ras kulit di atas 45 tahun, walaupun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi sebelum usia 45 prediabetes, yaitu ketika kadar gula darah lebih tinggi dari normal, tapi tidak cukup tinggi untuk diklasifikasikan sebagai diabetes saat dengan sindrom ovarium polikistik, yang ditandai dengan menstruasi tidak teratur, pertumbuhan rambut berlebihan, dan obesitas. Gejala Gula Darah Tinggi Diabetes Gejala masalah kesehatan ini akan muncul secara bervariasi pada setiap pengidapnya. Sebab, kondisi ini akan tergantung pada tingkat keparahan dan jenis penyakit gula yang pengidapnya miliki. Namun, secara umum ada beberapa gejala yang akan dialami oleh pengidap diabetes tipe 1 maupun tipe 2, yaitu Peningkatan rasa frekuensi buang air lelah atau rasa kelelahan gangguan penglihatan, seperti pandangan yang kabur. Terjadinya infeksi pada tubuh terus-menerus, yang umum terjadi pada bagian gusi, kulit, maupun area vagina pada wanita. Penurunan berat badan yang tidak jelas apa penyebabnya. Kehadiran keton dalam urine keton adalah produk sampingan dari pemecahan otot dan lemak yang terjadi ketika tidak ada cukup insulin yang tersedia. Maka dari itu, segeralah memeriksakan diri ke dokter jika mengalami salah satu atau sejumlah tersebut. Hal ini bertujuan agar pengidapnya mendapatkan perawatan yang tepat sedari dini, sehingga risiko akan komplikasi dari diabetes dapat terhindarkan. Diagnosis Gula Darah Tinggi Diabetes Dokter akan mendiagnosis kondisi ini pada seseorang dengan melakukan wawancara medis. Kemudian, dokter juga akan memeriksa kadar glukosa dalam tes darah. Ada tiga jenis tes yang dokter dapat gunakan untuk mengukur kadar glukosa darah, yaitu 1. Tes glukosa darah puasa. Untuk tes ini, pengidap penyakit gula perlu tidak makan atau minum apa pun kecuali air putih puasa. Puasa ini setidaknya delapan jam sebelum tes. Sebab, makanan dapat sangat memengaruhi gula darah, tes ini memungkinkan dokter melihat gula darah dasar. 2. Tes glukosa darah acak. Pemeriksaan ini dapat pengidap penyakit gula lakukan secara acak. Meskipun ketika kamu sedang berpuasa. 3. A1c. Tes ini, juga memiliki istilah lain HbA1C atau tes hemoglobin terglikasi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menunjukkan kadar glukosa darah rata-rata seseorang selama dua hingga tiga bulan terakhir. 4. Tes toleransi glukosa oral. Dalam tes ini, pengukuran kadar glukosa darah akan dokter lakukan setelah puasa semalam. Kemudian pengidap penyakit gula akan minum minuman manis. Nantinya, kadar glukosa darah pasien kemudian diperiksa pada jam satu, dua dan tiga. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan darah dan urine untuk membedakan apakah seseorang terkena diabetes tipe 1 atau 2. Nantinya, darah akan diperiksa untuk autoantibodi tanda autoimun bahwa imun tubuh menyerang dirinya sendiri. Sementara itu, urine akan diperiksa untuk mengetahui adanya keton pertanda tubuh seseorang membakar lemak sebagai suplai energinya. Untuk melakukan pemeriksaan-pemeriksaan ini, kamu bisa melakukannya di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Kamu juga bisa lho melakukan pemeriksaan diabetes dari rumah melalui layanan Halodoc Home Lab tersedia di Jabodetabek dan Surabaya dengan klik gambar berikut Pengobatan Diabetes Pengobatan akan disesuaikan dengan jenis penyakit gula yang kamu alami. Terapi insulin menjadi salah satu pengobatan yang bisa dilakukan oleh pengidap kondisi ini, baik tipe 1 maupun tipe 2. Bahkan, pada diabetes tipe 1 yang cukup berat, transplantasi pankreas dapat menjadi pilihan guna mengatasi kerusakan pada pankreas. Sedangkan pada pengidap diabetes tipe 2 akan diberikan beberapa jenis obat-obatan. Namun, umumnya ada beberapa perawatan yang harus dilakukan untuk menurunkan risiko diabetes, seperti 1. Menerapkan pola makan sehat Jika kamu mengalami penyakit diabetes, sebaiknya atur kembali pola makan yang sehat. Fokuskan pada asupan buah, sayur, protein tanpa lemak, dan juga biji-bijian. Tidak hanya itu, kamu juga perlu mengonsumsi serat dan mengurangi beberapa jenis makanan, seperti makanan yang mengandung lemak jenuh, karbohidrat olahan, hingga pemanis buatan. 2. Rutin melakukan aktivitas Fisik Setiap orang tentunya membutuhkan aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan tetap optimal. Termasuk pengidap diabetes. Olahraga menjadi satu kegiatan yang bisa dilakukan untuk menurunkan kadar gula darah dengan mengubahnya menjadi energi. Kamu bisa memilih untuk melakukan olahraga ringan, seperti berjalan kaki, berenang, atau bersepeda. Jadikan kegiatan tersebut sebagai rutinitas harian untuk membantu kamu menghindari kondisi diabetes menjadi lebih buruk. Pencegahan Diabetes Meskipun faktor risiko diabetes seperti riwayat keluarga dan ras tidak dapat diubah, tapi ada faktor risiko lain yang dapat dicegah sedari dini melalui penerapan hidup sehat. Berikut adalah beberapa langkah gaya hidup sehat yang dapat kamu lakukan mencegah penyakit diabetes, antara lain Mempertahankan berat badan ideal dengan mengonsumsi makanan rendah makanan tinggi serat seperti buah dan konsumsi makanan dan minuman secara rutin dan banyak melakukan aktivitas waktu duduk diam terlalu lama, seperti ketika menonton atau berhenti merokok. Baca juga Inilah yang Dimaksud Prediabetes dan Cara Mengatasinya Komplikasi Diabetes Komplikasi dari diabetes akan berkembang secara bertahap. Semakin lama seseorang mengidap diabetes dan semakin tidak terkontrolnya penyakitnya, maka akan semakin tinggi pula risiko komplikasi. Akhirnya, komplikasi diabetes dapat melumpuhkan atau bahkan mengancam jiwa. Berikut adalah beberapa kemungkinan komplikasi diabetes secara umum, yaitu Penyakit kardiovaskular. Diabetes dapat meningkatkan risiko berbagai masalah pada sistem kardiovaskular. Hal ini termasuk penyakit arteri koroner dengan nyeri dada angina, serangan jantung, stroke dan penyempitan arteri aterosklerosis. Kerusakan mata retinopati. Baik diabetes tipe 1 maupun 2 dapat menyebabkan komplikasi berupa kerusakan retina mata, Kerusakan saraf neuropati. Kelebihan gula dapat melukai dinding pembuluh darah kecil kapiler yang memberi nutrisi pada saraf terutama pada kaki. Hal ini dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, terbakar atau nyeri yang biasanya dimulai pada ujung jari kaki atau jari tangan dan secara bertahap menyebar ke atas. Di samping itu, diabetes juga berpotensi menyebabkan kerusakan ginjal, disfungsi seksual, hingga keguguran sebagai komplikasinya. Kapan Harus ke Dokter? Jika mengalami beberapa gejala dari diabetes dan gejala tersebut tak kunjung membaik, segera hubungi dokter. Tujuannya agar diabetes dapat segera terdeteksi, sehingga penanganan dapat dilakukan sedari dini. Semakin cepat penanganan dilakukan, maka semakin kecil pula risiko akan komplikasi diabetes dapat terjadi. Referensi Medical News Today. Diakses pada 2023. Diabetes Symptoms, Treatment, and Early Diagnosis. WebMD. Diakses pada Center Types, Cause, Symptoms, Test, and Treatments. Mayo Clinic. Diakses pada 2023. Diabetes. Cleveland Clinic. Diakses pada 2023. Diabetes An Overview. NIDDK. Diakses pada 2023. Diabetes Tests & Diagnosis. Diperbarui pada 30 Maret 2023. – Diabetes mellitus adalah penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal secara menahun. Sebutan glukosa darah sering dikenal oleh masyarakat sebagai gula mellitus juga dapat dipahami sebagai penyakit yang muncul akibat tubuh tidak atau kurang dalam memproduksi insulin. Insulin padahal memiliki tugas memasukkan glukosa ke dalam sel-sel tubuh, terutama hati dan otot. Baca juga Berapa Kadar Gula Darah Normal dalam Tubuh? Tanpa insulin, glukosa tidak akan sampai ke sel. Akibatnya, sel akan “kekurangan makanan”. Oleh karena itu, tubuh menjadi lemas akibat tidak memiliki sumber energi. Sementara itu, apabila diabetes tidak segera ditolong atau dibiarkan tanpa penanganan, bisa menimbulkan komplikasi berbahaya. Salah satu komplikasi diabetes, yakni terjadi kerusakan otak dan akhirnya berujung pada kematian. Maka dari itu, kondisi diabetes patut diwaspadai. Tak hanya dengan obat, diabetes sebenarnya dapat diatasi dengan pendekatan tanpa obat. Penatalaksanaan tanpa obat berupa pengaturan diet dan olahraga bahkan semestinya yang menjadi langkah pertama sebagai cara mengobati diabetes. Apabila dengan cara alami ini tujuan pengobatam diabetes belum tercapai, baru dapat dikombinasikan dengan langkah farmakologis berupa terapi insulin atau terapi obat hipoglikemik oral, atau kombinasi keduanya. Baca juga Berapa Kadar Asam Urat Normal dalam Darah? Melansir berbagai sumber, berikut ini saran cara mengobati diabetes secara alami untuk tujuan menjaga agar kadar gula darah dalam kisaran normal dan mencegah atau meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi diabetes 1. Batasi jumlah kalori Melansir Buku saku “Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Diabetes Mellitus” yang diterbitkan Kemenkes RI pada 2005, diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Makanan untuk penderita diabetes yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi seimbang dalam hal karbohidrat, protein, dan lemak, seseuai dengan kecukupan gizi baik, yakni sebagai berikut Karbohidrat 60-70 persen dari asupan kalori harian Protein 10-15 persen dari asupan kalori harian Lemak 20-25 persen dari asupan kalori harian Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuan, status gizi, umur, stress akut, dan kegiatan fisik, yang pada dasarnya ditujuan untuk mencapai dan mempertahankan berat ideal. Baca juga Kenali Gejala Khusus Diabetes Tipe 1 Penurunan berat badan telah terbukti dapat dapat mengurangi resistensi insulin dan memperbaiki respons sel-sel β terhadap stimulus glukosa. Dalam salah satu penelitian dilaporkan bahwa penurunan 5% berat badan dapat mengurangi kadar HbA1c sebanyak 0,6% HbA1c adalah salah satu parameter status DM, dan setiap kilogram penurunan berat badan dihubungkan dengan 3-4 bulan tambahan waktu harapan hidup. 2. Perhatikan jenis bahan makanan Selain jumlah kalori, pilihan jenis bahan makanan juga sebaiknya diperhatikan. Masukan kolesterol tetap diperlukan, tapi jangan sampai melebihi 300 mg per hari. Sementara, sumber lemak diupayakan yang berasal dari bahan nabati, yang mengandung lebih banyak asam lemak tak jenuh dibandingkan asam lemak jenuh. Sebagai sumber protein sebaiknya diperoleh dari ikan, ayam terutamadaging dada, tahu dan tempe, karena tidak banyak mengandung lemak. Baca juga Kenali Gejala Khusus Diabetes Tipe 2 3. Pastikan konsumsi serat Masukan serat sangat penting bagi penderita diabetes, diusahakan paling tidak 25 g per hari. Serat dibutuhkan untuk membantu menghambat penyerapan lemak. Selain itu, makanan berserat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga dapat membantu mengatasi rasa lapar yang kerap dirasakan penderita DM tanpa risiko masukan kalori yang berlebih. Di samping itu makanan yang mengandung serat seperti sayur dan buah-buahan segar umumnya kaya akan vitamin dan mineral. 4. Pilih olahraga yang tepat Olah raga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula darah tetap normal. Saat ini ada dokter olah raga yang dapat dimintakan nasihat untuk mengatur jenis dan porsi olah raga yang sesuai untuk penderita diabetes. Prinsipnya, tidak perlu olah raga berat, olah raga ringan asal dilakukan secara teratur akan sangat bagus pengaruhnya bagi kesehatan. Baca juga Bagaimana Olahraga yang Tepat untuk Tingkatkan Daya Tahan Tubuh? Olahraga yang disarankan adalah yang bersifat CRIPE Continuous, Rhytmical, Interval, Progressive, Endurance Training. Sedapat mungkin mencapai zona sasaran 75-85 persen denyut nadi maksimal 220-umur, disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penderita. Beberapa contoh olahraga yang disarankan, antara lain jalan atau lari pagi, bersepeda, berenang, dan lain sebagainya. Olahraga aerobik ini paling tidak dilakukan selama total 30-40 menit per hari didahului dengan pemanasan 5-10 menit dan diakhiri pendinginan antara 5-10 menit. Olahraga akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan aktivitas reseptor insulin dalam tubuh dan juga meningkatkan penggunaan glukosa. 5. Banyak minum airMelansir Health Line, minum cukup air dapat membantu penderita diabetes menjaga kadar gula darah dalam batas yang sehat. Selain mencegah dehidrasi, ada baiknya ginjal membuang kelebihan gula darah melalui urin. Sebuah studi pengamatan menunjukkan bahwa mereka yang minum lebih banyak air memiliki risiko lebih rendah terkena kadar gula darah tinggi. Air minum secara teratur menghidrasi ulang darah, menurunkan kadar gula darah dan mengurangi risiko diabetes. Baca juga 9 Bahaya Tak Minum Air Putih 8 Gelas Sehari Perlu diingat bahwa air putih dan minuman non-kalori lainnya adalah pilihan yang terbaik. Minuman yang dimaniskan dengan gula hanya akan meningkatkan glukosa darah, mendorong kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko diabetes. 6. Pilih makanan dengan indeks glikemik rendah Indeks glikemik dikembangkan untuk menilai respons gula darah tubuh terhadap makanan yang mengandung karbohidrat. Baik jumlah dan jenis karbohidrat menentukan bagaimana makanan mempengaruhi kadar gula darah. Mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah telah terbukti mengurangi kadar gula darah jangka panjang pada penderita diabetes tipe 1 dan tipe 2. Meskipun indeks glikemik makanan penting, jumlah karbohidrat yang dikonsumsi juga penting. Makanan dengan indeks glikemik rendah termasuk makanan laut, daging, telur, gandum, barley, kacang-kacangan, lentil, kacang-kacangan, ubi jalar, jagung, ubi jalar, sebagian besar buah-buahan dan sayuran non-tepung. Baca juga 7 Biji-bijian Makanan Berserat Tinggi 7. Kontrol stres Stres dapat memengaruhi kadar gula darah penderita diabetes. Hormon seperti glukagon dan kortisol disekresi selama stres. Hormon-hormon ini menyebabkan kadar gula darah naik. Satu studi menunjukkan bahwa olahraga, relaksasi dan meditasi secara signifikan mengurangi stres dan menurunkan kadar gula darah untuk siswa. Latihan dan metode relaksasi seperti yoga dan pengurangan stres berbasis kesadaran juga dapat memperbaiki masalah sekresi insulin pada diabetes kronis. 8. Monitor kadar gula darah secara rutin Mengukur dan memantau kadar glukosa darah dapat membantu penderita diabetes mengendalikan penyakitnya. Misalnya, melacak membantu mereka menentukan apakah perlu melakukan penyesuaian dalam makanan atau obat-obatan. Ini juga akan membantu para penderita diabetes mengetahui bagaimana tubuh bereaksi terhadap makanan tertentu. Coba ukur level Anda setiap hari, dan catat nomornya dalam buku catatan. 9. Cukup tidur Tidur yang cukup terasa luar biasa dan diperlukan untuk kesehatan yang baik. Kebiasaan tidur yang buruk dan kurang istirahat juga memengaruhi kadar gula darah dan sensitivitas insulin. Kondisi tersebut dapat meningkatkan nafsu makan dan meningkatkan berat badan. Kurang tidur mengurangi pelepasan hormon pertumbuhan dan meningkatkan kadar kortisol. Kedua hal ini memainkan peran penting dalam kontrol gula darah. Selain itu, tidur yang baik adalah soal kuantitas dan kualitas. Yang terbaik adalah mendapatkan jumlah tidur berkualitas tinggi yang cukup setiap malam. Baca juga Bagaimana Tidur yang Bisa Meningkatkan Daya Tahan Tubuh? 10. Makan makanan kaya chromium dan magnesium Kadar gula darah tinggi dan diabetes juga dikaitkan dengan defisiensi mikronutrien. Contohnya termasuk kekurangan mineral chromium dan magnesium. Chromium terlibat dalam metabolisme karbohidrat dan lemak. Ini juga membantu mengontrol kadar gula darah, dan kurangnya kromium dapat membuat Anda cenderung tidak toleran terhadap karbohidrat. Namun, mekanisme di balik ini tidak sepenuhnya diketahui. Studi juga melaporkan berbagai temuan. Dua studi pasien diabetes menunjukkan bahwa kromium memiliki manfaat untuk kontrol gula darah jangka panjang. Namun, penelitian lain menunjukkan tidak ada manfaat. Makanan kaya kromium termasuk kuning telur, produk biji-bijian, sereal tinggi dedak, kopi, kacang-kacangan, kacang hijau, brokoli dan daging. Magnesium juga terbukti bermanfaat bagi kadar gula darah, dan defisiensi magnesium dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terkena diabetes. Dalam sebuah penelitian, orang dengan asupan magnesium tertinggi memiliki risiko 47 persen lebih rendah untuk menjadi diabetes. Baca juga 9 Makanan yang Mengandung Kalsium Tinggi Namun, jika Anda sudah makan banyak makanan kaya magnesium, maka Anda mungkin tidak akan mendapat manfaat dari suplemen. Makanan kaya magnesium termasuk sayuran berdaun gelap, biji-bijian, ikan, cokelat hitam, pisang, alpukat, dan kacang-kacangan. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Pada dasarnya, obat diabetes yang ada saat ini hanya membantu menurunkan menurunkan gula darah serta mengurangi risiko terkena komplikasi. Obat-obatan tersebut tidak dapat memperbaiki fungsi pankreas dalam menghasilkan insulin atau mengubah cara kerja tubuh dalam menggunakan insulin. Sampai saat ini, belum ada obat atau terapi pengobatan yang mampu menyembuhkan diabetes secara tuntas. Ini artinya, diabetes adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Meski demikian, Anda yang memiliki diabetes ternyata tidak harus minum obat seumur hidup. Benarkah demikian? Ternyata, diabetes punya fase remisi Diabetes memang tidak dapat disembuhkan, tetapi penyakit ini dapat memasuki fase remisi. Apa maksudnya? Begini, pada kondisi remisi, tubuh tidak akan menunjukkan gejala diabetes sama sekali. Meski begitu, penyakit diabetes masih ada di tubuh Anda. Berdasarkan informasi dari American Diabetes Association, remisi diabetes terbagi menjadi 3 jenis Remisi parsial pasien dapat menjaga kadar gula darah lebih rendah dibanding pasien diabetes pada umumnya selama 1 tahun tanpa pengobatan. Remisi total pasien berhasil menjaga gula darah dalam kadar normal seperti pada orang sehat selama 1 tahun tanpa pengobatan. Remisi berkepanjangan pasien berada di fase remisi total selama minimal 5 tahun. Bila pasien diabetes berhasil menjaga gula darah dalam kadar normal selama 20 tahun, dokter hanya menetapkan Anda dalam fase remisi. Hanya saja, Anda masih belum terbebas dari penyakit diabetes. Dengan menjalani pengobatan secara teratur, mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat, serta menjalani gaya hidup sehat, pasien diabetes bisa saja ada di fase remisi dan tidak perlu minum obat seumur hidup atau dalam jangka panjang. Agar tidak perlu minum obat diabetes seumur hidup, ini tipsnya Kesimpulannya, bisa dikatakan bahwa seseorang yang sudah terdiagnosis dengan diabetes tidak dapat sembuh, tetapi ia dapat menghindari risiko minum obat seumur hidup. Kuncinya, terletak di penerapan gaya hidup yang sehat untuk menjaga kadar gula darah dan berat badan. Dengan demikian, Anda tetap bisa menjalani kehidupan yang sehat, aktif, serta terhindar dari risiko komplikasi diabetes dan harapan hidup Anda dengan diabetes bisa lebih lama. Supaya dapat memasuki fase remisi dan tidak perlu minum obat seumur hidup, penderita diabetes perlu melakukan beberapa perubahan gaya hidup seperti berikut. Makan makanan dengan gizi seimbang yang baik untuk kadar gula darah. Perbanyak menu sehat seperti sayur, buah-buahan, biji-bijian, susu rendah lemak, serta protein. Kurangi makanan yang memicu kenaikan gula darah, seperti karbohidrat sederhana, cemilan manis, atau minuman bersoda. Bila perlu, hindari makanan tersebut sama sekali. Pastikan Anda rutin berolahraga, minimal 30 menit sehari sebanyak 5 hari dalam seminggu. Olahraga ringan untuk diabetes seperti jalan kaki, bersepeda, atau berenang sangat dianjurkan. Rutin menjalani pengobatan jika masih diharuskan dokter untuk mengonsumsi obat-obatan. Konsumsi obat-obatan diabetes tetaplah penting untuk mengendalikan gula darah Anda. Bahkan, pasien diabetes juga bisa rutin melakukan senam kaki untuk menjaga daya tahan tubuh. Obat yang dapat menyembuhkan diabetes secara total memang belum tersedia. Namun, para ahli tidak berhenti berupaya mengembangkan terapi pengobatan yang mungkin efektif di masa depan. Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah. Glukosa merupakan sumber energi utama bagi sel tubuh manusia. Akan tetapi, pada penderita diabetes, glukosa tersebut tidak dapat digunakan oleh tubuh. Kadar gula glukosa dalam darah dikendalikan oleh hormon insulin yang diproduksi pankreas. Namun, pada penderita diabetes, pankreas tidak mampu memproduksi insulin sesuai kebutuhan tubuh. Tanpa insulin, sel-sel tubuh tidak dapat menyerap dan mengolah glukosa menjadi energi. Glukosa yang tidak diserap sel tubuh dengan baik akan menumpuk dalam darah. Kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai gangguan pada organ tubuh. Jika tidak terkontrol dengan baik, diabetes dapat menimbulkan komplikasi yang berisiko mengancam nyawa penderitanya. Penyebab Diabetes Secara umum, diabetes dibedakan menjadi dua, yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2. Berikut adalah penjelasannya Diabetes tipe 1 Diabetes tipe 1 terjadi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang dan menghancurkan sel-sel pankreas yang memproduksi insulin. Hal ini menyebabkan kadar glukosa darah meningkat sehingga memicu kerusakan pada organ-organ tubuh. Diabetes tipe 1 dikenal juga dengan diabetes autoimun. Penyebab diabetes tipe 1 masih belum diketahui secara pasti. Namun, ada dugaan penyakit ini terkait dengan faktor genetik dan faktor lingkungan. Diabetes tipe 2 Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang paling banyak terjadi, yakni sekitar 90–95%. Diabetes tipe 2 terjadi ketika sel-sel tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin sehingga insulin yang dihasilkan tidak bisa digunakan dengan baik. Kondisi ini dikenal juga dengan istilah resistensi insulin. Selain kedua jenis diabetes tersebut, ada jenis diabetes yang biasa terjadi pada ibu hamil, yakni diabetes gestasional. Diabetes jenis ini disebabkan oleh perubahan hormon pada masa kehamilan, tetapi biasanya gula darah penderita akan kembali normal setelah masa persalinan. Faktor risiko diabetes Seseorang akan lebih berisiko terkena diabetes tipe 1 jika memiliki faktor risiko berikut Berusia 4–7 tahun atau 10–14 tahun Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 1 Menderita penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Menderita penyakit autoimun, seperti penyakit Grave, penyakit Hashimoto, dan penyakit Addison Mengalami cedera pada pankreas akibat infeksi, tumor, cedera, kecelakaan, atau efek samping setelah operasi besar Sementara itu, diabetes tipe 2 lebih berisiko terjadi pada seseorang dengan faktor-faktor berikut Berusia lebih dari 45 tahun Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 2 Jarang beraktivitas fisik atau berolahraga Memiliki berat badan berlebih atau obesitas Menderita prediabetes Menderita kolesterol tinggi Menderita tekanan darah tinggi hipertensi Khusus pada wanita, ibu hamil yang menderita diabetes gestasional dapat lebih mudah mengalami diabetes tipe 2. Selain itu, wanita yang memiliki riwayat penyakit polycystic ovarian syndrome PCOS juga lebih mudah mengalami diabetes tipe 2. Gejala Diabetes Diabetes tipe 1 dapat berkembang dengan cepat dalam beberapa minggu atau bahkan beberapa hari saja. Sedangkan pada diabetes tipe 2, banyak penderitanya yang tidak menyadari bahwa mereka telah menderita diabetes selama bertahun-tahun, karena gejalanya cenderung tidak spesifik. Beberapa ciri-ciri penyakit gula atau diabetes tipe 1 dan tipe 2 meliputi Sering merasa haus atau sangat lapar Sering buang air kecil, terutama pada malam hari Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas Penurunan massa otot Pandangan kabur Urine mengandung keton Tubuh mudah lelah dan lemas Luka menjadi lebih sulit sembuh Mudah mengalami infeksi, seperti di gusi, kulit, vagina, atau saluran kemih Selain itu, ada beberapa gejala lain yang juga bisa dialami penderita diabetes, antara lain Mulut kering Gatal-gatal di kulit atau timbul prurigo Disfungsi ereksi atau impotensi Rasa terbakar, kaku, dan nyeri pada kaki Hipoglikemia reaktif, yaitu hipoglikemia yang terjadi beberapa jam setelah makan akibat produksi insulin yang berlebihan Bercak-bercak hitam di sekitar leher, ketiak, dan selangkangan, akantosis nigrikans yang menjadi tanda resistensi insulin Sementara itu, ada juga beberapa orang yang mengalami prediabetes, yaitu kondisi ketika glukosa dalam darah berada di atas rentang normal tetapi tidak cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai diabetes. Meski demikian, seorang penderita prediabetes juga dapat menderita diabetes tipe 2 jika tidak ditangani dengan baik. Kapan harus ke dokter Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami gejala-gejala utama diabetes, yaitu Sering merasa haus Mudah lelah Lebih sering buang air kecil daripada biasanya, terutama pada malam hari Penurunan berat badan dan kehilangan massa otot Gatal di sekitar penis atau vagina Penyembuhan luka terasa lambat Sering mengalami sariawan Penglihatan kabur Jika Anda memiliki faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena diabetes, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan gula darah rutin. Tujuannya adalah agar penyakit ini dapat terdeteksi dan ditangani sejak dini. Diagnosis Diabetes Gejala diabetes biasanya berkembang secara bertahap, kecuali diabetes tipe 1 yang gejalanya dapat muncul secara tiba-tiba. Namun, karena diabetes umumnya tidak terdiagnosis pada awal kemunculannya, orang-orang yang berisiko terkena penyakit ini dianjurkan menjalani pemeriksaan rutin, terutama pada kelompok berikut Orang yang berusia di atas 45 tahun Wanita yang pernah mengalami diabetes gestasional saat hamil Orang yang memiliki indeks massa tubuh BMI di atas 25 Orang yang sudah didiagnosis menderita prediabetes Tes gula darah merupakan pemeriksaan yang mutlak dilakukan untuk mendiagnosis diabetes tipe 1 atau tipe 2. Hasil pengukuran gula darah akan menunjukkan apakah seseorang menderita diabetes atau tidak. Dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjalani tes gula darah pada waktu dan dengan metode tertentu. Beberapa metode tes gula darah yang dapat dijalani oleh pasien, antara lain 1. Tes gula darah sewaktu Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada jam tertentu secara acak. Tes ini tidak mengharuskan pasien untuk berpuasa terlebih dahulu. Jika hasil tes gula darah sewaktu menunjukkan kadar gula 200 mg/dL atau lebih, pasien dapat didiagnosis menderita diabetes. 2. Tes gula darah puasa Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada saat pasien berpuasa. Pasien akan diminta berpuasa terlebih dahulu selama 8 jam sebelum menjalani tes. Hasil tes gula darah puasa dapat dikatakan normal bila kadar gula darah pasien kurang dari 100 mg/dL. Sedangkan hasil tes gula darah puasa di antara 100–125 mg/dL menunjukkan pasien menderita prediabetes. Sementara itu, hasil tes gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih menunjukkan bahwa pasien menderita diabetes. 3. Tes toleransi glukosa Pasien akan terlebih dahulu diminta untuk berpuasa selama semalam, kemudian menjalani tes gula darah puasa. Selanjutnya, pasien akan diminta meminum larutan gula khusus. Sampel gula darah pasien akan diambil kembali 2 jam setelah minum larutan gula. Hasil tes toleransi glukosa di bawah 140 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Sementara hasil tes tes dengan kadar gula 140–199 mg/dL menandakan kondisi prediabetes. Pasien dapat dikatakan menderita diabetes jika tes toleransi glukosa menunjukkan kadar gula 200 mg/dL atau lebih. 4. Tes HbA1C glycated haemoglobin test Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa rata-rata pasien selama 2–3 bulan terakhir. Tes ini mengukur kadar gula darah yang terikat pada hemoglobin, yaitu protein yang berfungsi membawa oksigen dalam darah. Dalam tes HbA1C, pasien tidak perlu menjalani puasa terlebih dahulu. Hasil tes HbA1C di bawah 5,7 % merupakan kondisi normal, sedangkan hasil tes 5,7–6,4% menunjukkan kondisi prediabetes. Sementara hasil tes HbA1C di atas 6,5% menandakan bahwa pasien menderita diabetes. Di samping tes HbA1C, pemeriksaan estimasi glukosa rata-rata eAG juga bisa dilakukan untuk mengetahui kadar gula darah dengan lebih akurat. Jika pasien didiagnosis menderita diabetes, dokter akan merencanakan metode pengobatan yang akan dijalani. Khusus pada pasien yang dicurigai menderita diabetes tipe 1, dokter akan menyarankan tes autoantibodi untuk mendeteksi antibodi yang merusak organ dan jaringan tubuh, termasuk pankreas. Pengobatan Diabetes Pengobatan diabetes tergantung pada jenis diabetes yang dialami oleh pasien. Berikut ini adalah beberapa metode pengobatan diabetes yang dapat dilakukan Obat-obatan Pada diabetes tipe 1, pasien akan membutuhkan terapi insulin untuk mengatur gula darah sehari-hari. Beberapa pasien diabetes tipe 2 juga disarankan untuk menjalani terapi insulin untuk mengatur gula darah. Insulin tambahan biasanya akan diberikan melalui suntikan, bukan dalam bentuk obat oral. Dokter akan mengatur jenis dan dosis insulin yang digunakan, serta memberitahu cara menyuntiknya. Pada kasus diabetes tipe 1 yang berat, dokter akan merekomendasikan prosedur transplantasi pankreas untuk mengganti pankreas yang rusak. Pasien diabetes tipe 1 yang berhasil menjalani transplantasi tersebut tidak memerlukan lagi terapi insulin, tetapi harus mengonsumsi obat imunosupresif secara rutin. Pada pasien diabetes tipe 2, dokter akan meresepkan obat-obatan, salah satunya adalah metformin. Metformin berfungsi menurunkan produksi glukosa dari hati dan membantu tubuh dalam mengolah insulin secara efektif. Dokter juga dapat memberikan suplemen atau vitamin guna mengurangi risiko terjadinya komplikasi. Misalnya, pasien diabetes yang sering mengalami gejala kesemutan akan diberikan vitamin neurotropik. Vitamin neurotropik umumnya terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12. Vitamin-vitamin ini bermanfaat untuk menjaga fungsi dan struktur saraf tepi. Hal ini sangat penting untuk pasien diabetes tipe 2 agar terhindar dari komplikasi neuropati diabetik yang cukup sering terjadi. Perubahan pola hidup Pasien dianjurkan untuk mengatur pola makan dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, protein dari biji-bijian, serta makanan rendah kalori dan lemak. Pilihan makanan untuk penderita diabetes juga sebaiknya benar-benar diperhatikan. Bila perlu, pasien juga dapat mengganti asupan gula dengan pemanis yang lebih aman, seperti sorbitol atau stevia. Pasien dan keluarganya juga dapat melakukan konsultasi gizi dan pola makan dengan dokter guna mengatur pola makan sehari-hari. Untuk membantu mengubah gula darah menjadi energi dan meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin, pasien dianjurkan untuk berolahraga secara rutin, setidaknya 150 menit dalam seminggu. Pasien juga dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai pilihan olahraga dan aktivitas fisik yang sesuai. Pasien harus mengontrol gula darahnya secara disiplin melalui pola makan sehat agar gula darah tidak meningkat hingga di atas normal. Selain itu, pasien juga akan diberikan jadwal untuk menjalani tes HbA1C secara mandiri guna memantau kadar gula darah selama 2–3 bulan terakhir. Tes gula darah mandiri Tes gula darah mandiri dilakukan sebanyak minimal 4 kali dalam sehari, yaitu pada setiap sebelum makan dan sebelum tidur, terutama bagi yang menjalani terapi insulin. Frekuensi tes yang dilakukan tergantung pada anjuran dari dokter. Setelah itu, hasil tes akan dicatat dan catatan tersebut perlu dibawa ketika kontrol ke dokter. Komplikasi Diabetes Diabetes menimbulkan berbagai komplikasi, baik yang terjadi mendadak akut maupun dalam jangka panjang kronis. Komplikasi akut yang dapat terjadi pada penderita diabetes adalah ketoasidosis diabetik dan hyperosmolar hyperglycemic syndrome HHS. Sejumlah komplikasi yang dapat muncul akibat diabetes tipe 1 dan 2 adalah Stroke Penyakit jantung Gagal ginjal kronis Neuropati diabetik Gangguan penglihatan Katarak Depresi Demensia Gangguan pendengaran Frozen shoulder Luka dan infeksi pada kaki yang sulit sembuh Kerusakan kulit atau gangrene akibat infeksi bakteri dan jamur, termasuk bakteri pemakan daging Diabetes akibat kehamilan juga dapat menimbulkan komplikasi pada ibu hamil dan bayi, contohnya adalah preeklamsia. Sementara itu, beberapa komplikasi yang dapat muncul pada bayi adalah Keguguran Kelahiran prematur Kelebihan berat badan saat lahir Gula darah rendah hipoglikemia Penyakit kuning Peningkatan risiko terkena diabetes tipe 2 setelah dewasa Pencegahan Diabetes Diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah karena pemicunya belum diketahui. Sementara itu, diabetes tipe 2 dan diabetes gestasional dapat dicegah, yaitu dengan pola hidup sehat. Beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah diabetes di antaranya Mengatur frekuensi dan menu makanan menjadi lebih sehat Rutin berolahraga dan melakukan aktivitas fisik Menjaga berat badan ideal Beristirahat dan tidur yang cukup Berhenti merokok Menghindari konsumsi minuman beralkohol Mengelola stres dengan baik Rutin menjalani pengecekan gula darah, setidaknya sekali dalam 1 tahun

doa menyembuhkan penyakit diabetes